Sabtu, 2 Mei 2026 Berita Terkini & Terpercaya
Hijau KitaHijau Kita
Hijau Kita - Your source for the latest articles and insights
Beranda Berita Angka Kasus Melonjak, Pemkot Tetapkan KLB Campak d...
Berita

Angka Kasus Melonjak, Pemkot Tetapkan KLB Campak di Cilegon

KLB Campak di Cilegon: Pemkot Siagakan Imunisasi Massal dan Perkuat Edukasi Publik Majalah Cilegon — Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon resmi menetapkan status

Angka Kasus Melonjak, Pemkot Tetapkan KLB Campak di Cilegon

KLB Campak di Cilegon: Pemkot Siagakan Imunisasi Massal dan Perkuat Edukasi Publik

Majalah Cilegon Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon resmi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di empat kecamatan, yakni Cibeber, Jombang, Citangkil, dan Pulomerak, setelah terjadi lonjakan signifikan kasus campak di wilayah tersebut dalam dua pekan terakhir.

Penetapan status KLB ini disertai dengan langkah cepat berupa program imunisasi massal Campak-Rubela (Outbreak Response Immunization/ORI) yang digelar di seluruh sekolah dasar, taman kanak-kanak, hingga posyandu di wilayah terdampak. Langkah ini dibahas dalam Rapat Koordinasi Pelaksanaan ORI Campak Rubela Tingkat Kota Cilegon yang berlangsung di Aula Setda Cilegon, Rabu (29/10/2025).

Wakil Wali Kota Cilegon, Fajar Hadi Prabowo, yang membuka rapat tersebut, menegaskan bahwa upaya penanggulangan wabah tidak boleh hanya bersifat reaktif, melainkan harus dijalankan secara masif, sistematis, dan berkelanjutan.

“Saya hari ini diminta membuka agenda ORI atau imunisasi massal karena sudah ada kasus KLB di empat kecamatan — Cibeber, Jombang, Citangkil, dan Pulomerak. Ini kondisi luar biasa dan perlu langkah cepat,” ujar Fajar Hadi.

Menurutnya, langkah vaksinasi tidak hanya sekadar memenuhi target administratif, melainkan bagian dari tanggung jawab moral pemerintah dalam melindungi kesehatan anak-anak. Fajar menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari Dinas Kesehatan, pendidikan, aparat kepolisian, hingga tokoh masyarakat untuk memastikan seluruh anak yang menjadi sasaran imunisasi dapat terlayani.

“Campak di empat kecamatan ini sudah KLB. Maka perlu ada tindak lanjut yang konkret. Saya minta kolaborasi semua pihak — termasuk Binmas kepolisian — untuk ikut membantu. Kadang anak-anak takut jarum suntik, atau orang tuanya masih khawatir karena informasi yang salah. Ini harus kita atasi bersama,” tegasnya.

Selain fokus pada imunisasi, Pemkot Cilegon juga menekankan pentingnya edukasi publik untuk melawan misinformasi terkait vaksin. Fajar menyesalkan masih adanya sebagian masyarakat yang percaya pada hoaks seputar imunisasi, yang berpotensi menghambat upaya pencegahan penyakit menular.

“Perlu edukasi terus-menerus supaya masyarakat paham manfaat vaksin. Jangan sampai ada orang tua menolak karena isu yang tidak masuk akal. Tidak ada itu vaksin diambil dari bahan berbahaya seperti yang beredar di medsos,” ujarnya dengan nada tegas.

Fajar juga menyoroti perlunya keterlibatan seluruh kecamatan dalam kegiatan pencegahan dan pengendalian penyakit menular. Ia menilai, wabah seperti campak bisa menyebar dengan cepat jika tidak diantisipasi secara menyeluruh, termasuk di daerah yang belum berstatus KLB.

“Saya sayangkan tidak semua camat ikut dalam rapat ini. Padahal penyakit menular seperti campak tidak mengenal batas wilayah administrasi. Hari ini empat kecamatan, besok bisa jadi delapan kalau kita tidak bergerak cepat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Cilegon, dr. Sri Astuti, menjelaskan bahwa hingga akhir Oktober 2025, tercatat lebih dari 120 kasus suspek campak di empat kecamatan tersebut, dengan mayoritas penderita adalah anak-anak usia 2 hingga 10 tahun. Dinkes telah mengerahkan tim surveilans untuk melakukan pelacakan kontak dan pemantauan kasus di lapangan.

“Kami sudah menurunkan petugas ke lapangan, melakukan vaksinasi darurat, serta memberikan vitamin A dan edukasi bagi orang tua. Kami juga memantau agar tidak terjadi penyebaran lebih luas,” kata Sri Astuti.

Dinkes Cilegon menargetkan cakupan imunisasi ORI Campak-Rubela mencapai 95 persen dari total sasaran anak usia 9 bulan hingga 15 tahun dalam waktu dua pekan. Selain sekolah, kegiatan vaksinasi juga dilakukan di puskesmas, masjid, dan pos pelayanan terpadu untuk menjangkau masyarakat yang belum terdata.

Sebagai bagian dari mitigasi jangka panjang, Pemkot Cilegon juga berencana memperkuat sistem pencatatan imunisasi digital, agar distribusi vaksin dan laporan cakupan lebih akurat serta mudah dipantau oleh pusat dan daerah.

Dengan penetapan status KLB ini, pemerintah berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya vaksinasi. Langkah pencegahan melalui imunisasi menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan penyakit menular seperti campak dan rubela.

“Harapan kami, masyarakat tidak hanya datang untuk vaksin karena takut wabah, tetapi karena sadar bahwa imunisasi adalah investasi kesehatan anak-anak kita di masa depan,” tutup Fajar.